Username Password
01 August 2014 02:35:45
Login
Username

Password



Not a member yet?
Click here to register.

Forgotten your password?
Request a new one here.
Navigation
Users Online
Guests Online: 2

Members Online: 0

Total Members: 32
Newest Member: andytjee
Latest Articles
Sekilas tentang Hari...
Apa itu Jelantah? Ap...
Belajar dari Yohanes...
Sekilas Tentang Hari...
Pesan Pastoral Sidan...
Follow us
You can follow us through our :
Email Berlangganan

Masukkan alamat email Anda:

Dikirim oleh FeedBurner

Riwayat Pelindung

Santa Helena sering digambarkan sedang memeluk sebuah salib. Hal ini tidak berlebihan. Menurut tradisi dan sejumlah literatur kuno yang terpercaya, ia adalah tokoh yang menemukan salib Yesus Kristus yang asli di Tanah Suci Yerusalem.

Helena dipilih sebagai santa pelindung Paroki Curug, Karawaci, Tangerang, atas prakarsa sejumlah anggota Dewan Stasi, yang kemudian direstui oleh Uskup Agung Jakarta waktu itu, Julius Kardinal Darmaatmadja SJ. Pemilihan nama pelindung St Helena didasarkan pada semangat imannya.

“Pemilihan nama itu bermula dari pertimbangan Dewan Stasi St Helena karena melihat riwayat hidup Santa Helena yang penuh dengan perjuangan tiada tara untuk mendapatkan salib asli yang digunakan untuk menyalibkan Yesus.,” jelas warga Paroki Santa Helena, Vinsesius Fererius Rizal Tantra.

Kepala Paroki St Helena Curug, Heribertus Kartono OSC menuturkan bahwa iman dan semangat St Helena memang patut ditiru umat dewasa ini.

Sebagai simbol lecutan semangat, paroki yang beralamat di Jalan Permata Kasih VI, Taman Permata, LIPPO Karawaci, Tangerang ini menempatkan sebuah patung besar St Helena setinggi sekitar 4 meter, di halaman gereja. Harapannya, setiap kali menatap patung tersebut, umat kian termotivasi dan terinspirasi untuk mendalami dan meneladani iman Santa Helena. Patung Santa Helena bisa menjadi inspirasi dan daya dorong umat untuk tetap setia memelihara imannya, seiring banyaknya tantangan yang menghadang.

Pastor Heri menambahkan bahwa tantangan yang dihadapi paroki ini adalah umat yang sangat heterogen. Perbedaan suku, status sosial dan ekonomi sangat berpengaruh dalam kehidupan menggereja di paroki dengan 7.000-an umat ini. “Gereja yang heterogen cenderung melahirkan berbedaan pandangan yang berpotensi menjadi pertentangan,” tegas Pastor Heri.

Meski demikian, Pastor Heri mengakui, dalam banyak kesempatan, ia justru banyak belajar dari perbedaan yang ada.

Ajaran kristiani

Helena adalah putri seorang pengusaha penginapan di Drepanum. Kota kecil ini menjadi markas militer dengan sarana latihan yang sangat lengkap bagi tentara Romawi.

Rumah Helena terletak tidak jauh dari markas militer dan sering menjadi tempat singgah para tentara Romawi yang ingin melepas lelah dengan makan dan minum seusai latihan.

Helena selalu membantu orangtuanya, melayani para tamu dengan sopan dan ramah. Suatu hari seorang kepala pasukan bernama Konstantinus Klorus singgah di rumahnya. Konstantinus Klorus jatuh cinta padanya. Orangtua Helena merestui hubungan mereka.

Usai pernikahan, Konstantinus Klorus dipindahtugaskan oleh Kaisar Maximianus Hercules ke Galia Selatan. Mereka tinggal di Naissus (kini: Nis, Yugoslavia). Kaisar menilai Konstantinuslah orang yang tepat untuk mengatasi pemberontakan yang sering muncul di daerah itu.

Di tempat yang jauh dari orangtuanya itu, Helena melahirkan anak pertamanya Konstantinus Agung pada 274.

Salib Yesus

Riwayat PelindungSetelah Konstantinus Klorus meninggal di Eboracum (York) dalam sebuah ekspedisi ke Britania pada 306, Konstantinus Agung menggantikan ayahnya sebagai Kaisar Romawi Barat. Dia memanggil ibunya Helena ke istana di Roma dan menganugerahinya gelar Augusta, yang artinya ibu suri. Dia juga memberi nama tempat kelahiran ibunya dengan nama Helenopolis dan mencetak gambar Helena di atas koin-koin resmi.

Pada 313 kerajaannya diserang pasukan Maxentius. Ia mengalami penglihatan ajaib. Ia melihat salib. Pasukannya berperang dengan memakai tanda tersebut. Konstantinus Agung menang mutlak dan dielu-elukan umat Kristen saat memasuki Roma. Sejak kemenangan itu, ia memberi kebebasan kepada umat Kristen, dan agama Kristen dijadikan agama negara. Orang Kristen yang masih dipenjara dibebaskan, dan dalam perjalanan waktu, ia bersama ibunya menjadi penganut Kristen.

Pada 324 Helena berziarah ke Tanah Suci Yerusalem. Dalam ziarah ini, ia bertekad menemukan salib yang dipakai para algojo untuk menyalibkan Yesus. Ia menemukan tiga salib lengkap dengan paku-pakunya di sebuah sumur di dekat Bukit Golgota di Yerusalem. Manakah salib Yesus?

Dengan bantuan Uskup Makarios, ketiga salib itu ditempelkan pada seorang wanita yang telah lama sakit dan tak tersembuhkan. Ketika salib yang ketiga disentuhkan pada wanita tersebut, seketika wanita itu sembuh. Ia meyakini, salib ketiga itulah salib Yesus.

Setelah itu, ia meminta kepada putranya untuk mendirikan sebuah gereja di atas Bukit Golgota untuk menyimpan salib tersebut. Atas permintaannya juga, dua gereja lainnya dibangun di Betlehem, tempat kelahiran Yesus dan di Bukit Zaitun, tempat Yesus mengalami sakratul maut dan diangkat ke surga.

Setelah mendirikan banyak gereja, Helena bersatu dengan putranya yang berkuasa sebagai raja. Saat itu ibu kota Roma sudah dipindah ke Konstantinopel. Helena meninggal dunia pada 330.

Karena jasanya, Helena dianugerahi gelar Santa. Atas perintah putranya, Helena dimakamkan di makam para raja di Gereja Apostle. Pada 849 jasad Helena dipindahkan ke Abbey of Hautvillers dekat Rheims, Perancis. Makamnya menjadi tempat ziarah umat Katolik.

Gereja Katolik Roma memperingati kematiannya setiap 18 Agustus dan Gereja Ortodoks Timur memperingatinya setiap 21 Mei.


Johannes Sutanto de Britto
Laporan: Konradus R Mangu

Comments
No Comments have been Posted.
Post Comment
Please Login to Post a Comment.
  216,112 unique visits