Jl. Permata Kasih VI Blok C12 No. 1 Taman Permata - Tangerang 15810
Telp. (021) 55657370; Fax. : (021) 55657371
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Suatu hari seorang pertapa
tua yang tinggal di daerah pegunungan meninggal dunia. Keluarga jauhnya datang
untuk melayat dan ingin mengumpulkan barang-barang berharga milik pertapa tua
itu. Setibanya di sana
yang mereka lihat hanyalah sebuah gubuk tua dengan kamar mandi di sampingnya.
Dalam gubuk itu, di dekat tungku batu, ada sebuah panci masak tua dan peralatan
dapur lainnya. Sebuah meja retak dengan kursi berkaki tiga mengapit sebuah
jendela mungil. Sebuah lampu minyak tanah menjadi perhiasan di tengah-tengah
meja. Dalam kegelapan, tampak di sudut ruang kecil itu tempat tidur bobrok
dengan alas tikar di atasnya.
Mereka
mengambil beberapa barang tua dan beranjak pergi. Tiba-tiba seorang teman lama
pertapa yang naik kuda menghentikan mereka. Ia bertanya kepada mereka, “Apakah
tuan tidak keberatan kalau saya mengambil sisa barang yang masih ada di pondok
sabahat saya?”
Jawab mereka, “Silakan!” Mereka berpikir bahwa sudah tidak ada barang berharga
lagi di dalam gubuk reyot itu.
Orang itu masuk ke gubuk dan berjalan ke meja. Ia meraih bagian bawah meja dan
mengangkat salah satu papan lantai. Lalu ia mengambil semua emas di situ yang
telah ditemukan sahabatnya selama lebih dari lima puluh tahun. Harga emas cukup untuk
membangun sebuah istana megah.
Ketika pertapa itu meninggal, hanya sahabatnya itu yang tahu hartanya yang
sebenarnya. Ketika sahabatnya itu keluar lewat jendela dan memandang debu di
belakang mobil keluarga pertapa yang sudah menjauh itu, ia berkata, “Seharusnya
mereka mengenalnya lebih dekat.”
Mengenal sesama lebih dekat itu suatu yang sangat bernilai bagi hidup manusia.
Bukan pertama-tama karena sesama itu memiliki harta kekayaan yang banyak.
Tetapi lebih-lebih sesama memiliki keunikan, kemampuan dan pengalaman hidup
yang bisa membantu kita dalam perjalanan hidup kita. Seorang yang memiliki
keunikan, misalnya, kekuatan dalam menghibur orang lain akan sangat berguna
dalam membangkitkan semangat hidup. Karena itu, orang seperti ini menjadi
kekayaan dalam suatu keluarga, kelompok atau komunitas.
Membangun persahabatan berarti orang mau mengenal lebih dekat dengan sahabatnya
itu. Sahabat memiliki kekuatan untuk berbagi pengalaman hidup. Sahabat sejati
juga mampu berbagi penderitaan dengan sesamanya. Ia tidak lari, ketika temannya
mengalami penderitaan. Justru ia akan menemani sahabat yang menderita itu.
Setiap hari ini kita berjumpa dengan begitu banyak sahabat. Kita bisa bertanya
diri apakah sahabat yang kita jumpai itu sahabat-sahabat yang sejati yang mampu
berbagi derita dengan kita? Atau sahabat yang oportunis yang hanya datang
kepada kita di saat kita mengalami kegembiraan dan sukacita? Nah, kita juga
dituntut untuk cermat dalam membangun persahabatan. Tuhan memberkati. **