Jl. Permata Kasih VI Blok C12 No. 1 Taman Permata - Tangerang 15810
Telp. (021) 55657370; Fax. : (021) 55657371
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Bulan September adalah Bulan yang dikhususkan oleh Gereja Katolik sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Pada bulan ini, Pimpinan Gereja menganjurkan umat Katolik agar menjadi lebih akrab dengan Kitab Suci dengan berbagai cara, sehingga dengan demikian umat semakin tangguh dan mendalam imannya dalam menghadapi kerumitan dan kesulitan hidup dewasa ini.Sejak kapan tradisi Bulan Kitab Suci Nasional(BKSN)ini berawal?Apa gunanya Bulan Kitab Suci?
Suatu hari seorang bapak
membawa dua orang anaknya ke pantai. Begitu tiba di pantai, ia
memerintahkan kedua anaknya untuk melepaskan pakaian mereka. Ia mengajak mereka
untuk mencebur ke dalam laut. Itulah saatnya mereka menikmati hidup. Menikmati
indahnya berenang. Awalnya kedua anaknya itu bingung. Mereka tidak
begitu percaya kalau ayah mereka mengajak mereka berenang. Soalnya, baru kali itulah
mereka berenang bersama ayah mereka di laut. Namun akhirnya mereka dapat
menikmati indahnya berenang di sore hari. Mereka sungguh-sungguh merasakan
kedamaian dan ketenteraman. Mereka menyatukan diri mereka dengan alam yang
indah itu.
Mengapa kita makan dan minum Tubuh dan Darah Tuhan Yesus ?
Pertanyaan tersebut diajukan oleh seseorang dalam suatu situs rohani di
internet . Demikian jawaban singkatnya :
Kita memakan Tubuh
dan Darah Kristus karena Tuhan Yesus sendiri memerintahkannya kepada kita,
melalui para rasul-Nya. Tepatnya demikianlah perkataan Yesus,
“Akulahroti hidupyang telah turun dari sorga. Jikalau
seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang
Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia……Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya,
kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia
mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.Sebab
daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia
tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.Sama seperti Bapa yang hidup mengutus
Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan
hidup oleh Aku.Inilah roti yang telah turun dari sorga,
bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati.
Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58)
Banyak
orang non-Katolik telah diajari sedari kecil untuk meyakini bahwa salah satu
bukti nyata akan ketidakbenaran ajaran Katolik dapat dilihat dalam penghormatan
yang disampaikan kepada Santa Perawan Maria dalam Gereja Katolik, dan dalam
begitu banyaknya doa yang dengan penuh kepercayaan disampaikan kepada Bunda
Maria oleh umat Katolik. Sementara itu, benar juga bahwa banyak orang
non-Katolik, setelah mempelajari dasar-dasar kebenaran akan devosi umat Katolik
kepada Maria, begitu terpikat olehnya hingga akhirnya mereka menjadi Katolik.
Kebenaran tersebut sangat sederhana dan gamblang dan seluruhnya terkandung
dalam dua kebenaran berikut.
Seorang mistikus yang sudah
lanjut usia pernah mengatakan tentang dirinya, begini, “Ketika masih muda saya
seorang revolusioner dan doaku pada Tuhan adalah Tuhan berilah saya kekuatan
untuk mengubah dunia. Ketika saya mencapai usia tengahan dan menyadari bahwa
hidup saya sudah setengah lewat tanpa mengubah seorang pun, saya mengubah doa
saya sebagai berikut, ‘Tuhan berikan aku rahmat untuk mengubah semua orang yang
berkontak dengan saya, anggota keluargaku dan teman-temanku; itu sudah cukup.
Sekarang umur saya sudah tua dan hari-hariku sudah dapat dihitung. Saya mulai
menyadari betapa bodoh saya. Sekarang saya berdoa sebagai berikut, ‘Tuhan,
berikan aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri.’ Jika saya berdoa seperti ini
sejak awal, saya tentu tidak menyia-nyiakan hidupku.”
Suatu hari seorang pertapa
tua yang tinggal di daerah pegunungan meninggal dunia. Keluarga jauhnya datang
untuk melayat dan ingin mengumpulkan barang-barang berharga milik pertapa tua
itu. Setibanya di sana
yang mereka lihat hanyalah sebuah gubuk tua dengan kamar mandi di sampingnya.
Dalam gubuk itu, di dekat tungku batu, ada sebuah panci masak tua dan peralatan
dapur lainnya. Sebuah meja retak dengan kursi berkaki tiga mengapit sebuah
jendela mungil. Sebuah lampu minyak tanah menjadi perhiasan di tengah-tengah
meja. Dalam kegelapan, tampak di sudut ruang kecil itu tempat tidur bobrok
dengan alas tikar di atasnya.